Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, kami akan naik level dalam bentuk Start-up Digital bersama BEKRAF.go.id untuk membuat Perekonomian Kreatif di Indonesia.

Berikut ini adalah Business Model Canvas PROSYARI Apps yang akan menjadi pedoman dasar program baru kami. 🙂

BUSINESS MODEL CANVAS

PROSYARI Apps.

Deskripsi singkat ide/produk

PROSYARI, The Real Sharia Financial Solution.

MAIN GOALS:
Aplikasi untuk bertransaksi CICILAN non Bank dengan akad (Jual Beli Hutang) murni syariah yang semua dananya berasal dari Investor yang telah mengerti hukum investasi dari sudut pandang Islami.

#TanpaDenda
#TanpaSita
#TanpaBunga
#TanpaRIBA
#TanpaDebtCollector
#TanpaAkadBermasalah
#LebihNyaman
#LebihAman
#LebihTentram
#SemuaJelasDiAwal
#TransparantSystem

Feature Apps:
– User Wallet (Agar setiap user bisa menyimpan dan saling mengirim uang)
– Cash Flow Management (Catatan Arus Kas Individu)
– Tabungan Rencana (Qurban, Nikah, Pendidikan, Pengembangan Usaha, Umrah Haji dll) yang jika lewat dari batas waktu rencana, user dapat mengajukan pinjaman syariah.
– SYIRKAH.org, Memungkinkan users untuk menjadi investor kolektif pada program bertransaksi CICILAN Barang. (Bukan pinjaman Uang Tunai).
– CrowdFunding
– CashFunding (Pinjaman Tanpa Markup #MurniAkadHUTANG)

#LeasingAlternative
#CreditCardAlternative
#MuslimSolution
#ISLAMisAWayofLife

Customer Segment

1. Muslim dan non-Muslim yang ingin meninggalkan akad riba dan tidak cocok dengan akad bunga bank atau leasing.

2. Tidak ingin dihantui oleh Debt Collector dan bunga yang terus membengkak.

3. Butuh Dana untuk cicilan jangka pendek yang mudah disetujui dan minim resiko.

4. Tidak ingin diperbudak oleh Investor pada pengembangan usahanya.

5. Kesulitan mendapatkan edukasi, informasi dan Apply cicilan.

6. Muslim Kaffah.

Value Proposition

1. Sistem akad cicilan yang berdasarkan sepenuhnya pada Hukum Muamalah yang saling mensejahterakan kedua belah pihak.

2. Uang yang dipakai adalah jelas milik siapa dan diberikan untuk cicilannya siapa.

3. Cicilan akan lebih mudah disetujui karena telah diberikan Edukasi tentang Hukum Pinjaman, Hutang, Investasi dan Tabungan dalam Hukum Islam.

4. Investor adalah orang yang telah mengerti sistem investasi menurut pandangan Islami.

5. Akses Informasi dan Konsultasi yang sangat mudah dengan adanya Full Support 24/7 dari Team dan Relawan via Online maupun Onsite.

6. Open Source Program

Customer Relationship

Long-term: Membership Apps & Daily Cash Flow Notes (Mobile Apps).

Personal Assistance: Online Real-time Ticket Support berbasis Chat dan Onsite dengan Tim dan Relawan kami.

Self Service: Back-end User Friendly.

Automated Service: Auto Log Notification via SMS, Email and Apps.

Community: #TanpaRIBA, UKM Financial Plan, Saling membantu sesama, .

Co-Creation: Mengajak users untuk menuliskan perencanaan Finansial jangka pendek, menengah, panjang dan menuliskan barang/alat produktif kebutuhan Usaha nya

 

Channels

Direct : Promosi langsung ke Komunitas Muslim dan Pengusaha. Membuat landing page dan E-mail List Building. SMS Notification.

Indirect : Buka Stand pada Event dan Outlet Partner.

Awareness : menggunakan social media dan internet dengan konten-konten viral dan masuk ke forum online.

Evaluation : Kuisioner pada website dan forum.

 

Revenue Model

Asset Sale: Margin penjualan produk secara fisik.

Usage Fee: Margin atas skema cicilan Jangka waktu yang telah ditetapkan diawal.

Subscription Fees: Dari iklan aplikasi.

BIG DATA.

Donations. 🙂

 

Key Activities

Problem Solving :
Membantu users untuk mewujudkan Finansial Plan yang telah mereka buat.
Memberikan layanan untuk dapat bertransaksi secara cicilan syariah.
Membantu Investor muslim agar dapat saling memberi manfaat.

Platform Network : menjadi tempat atau wadah bertemunya users yang ingin mendapatkan fasilitas transaksi cicilan secara syariah dan users yang ingin menginvestasikan dananya agar aman dan bermanfaat.

 

Key Resources

Physical asset : Server, Domain.

Intellectual : Brand PROSYARI pada seluruh username di ekosistem digital. Database users cicilan dan user investor.

Human : Hacker, Hustler, Hipster.

 

Key Partners

Strategic Alliance:
Developer Property,
KPMI,
JPMI,
PKS*,
Hizbut Tahrir*,

supplier relationship:
ASTRA International,*
Qoerban.com
MUNATOUR Umra & Hajj Service
Wedding Organizer,

 

Cost Structure

Cost-driven: sensitif terhadap harga beli masing-masing users.

Fixed cost: Admin, Finance, Marketing, Staff, Programmer, Server, Domain.

Variable cost: Marketing Freelancer, Staff Freelancer, Re-Developer.

 

 

SYARIAHKAH LEASING SYARIAH? | PANJIMAS.COM
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

dikutip dari amanasharia.com

Berikut ini akan kami bahas mengenai skema Leasing Syariah yang tidak sesuai Syariah dan sesuai Syariah. Tanggapan kami akan ada di bagian yang diawali dengan “IFHAM”‌ dan tulisan yang ditanggapi akan diawali dengan “ARTIKEL”

Mari kita mulai:

ARTIKEL:

PANJIMAS.COM “ Pertanyaan, bagaimana hukum membeli barang secara kredit dari perusahaan leasing dan bagaimana hukum menjadi karyawan di sana? (Indra_Tasikmalaya)‌

Jawaban, Bismillahirrahmanirrahim, kredit yang dilakukan secara langsung antara pemilik barang dengan pembeli merupakan transaksi perniagaan yang dihalalkan dalam syariat.‌

Bahkan meskipun harga beli kredit lebih tinggi dibandingkan harga harga beli tunai. Inilah pendapat yang paling kuat, yang dipilih oleh mayoritas ulama.‌

IFHAM:

Mari terlebih dulu kita definisikan makna KREDIT. Ada banyak jenis jual beli. Di antaranya adalah (1) Jual Beli naqdan, yakni cash; (2) Jual Beli muajjal, yakni jual beli dengan pembayaran tunda/tempo tapi dibayarkan semuanya nantinya; (3) Jual Beli taqsith, yakni jual beli dengan pembayaran tunda dan diangsur; (4) dan masih banyak yang lain.

Rasulullah pernah bersabda bahwa ketika ada berbagai alternatif harga (dalam Jual Beli), maka pilihlah (salah satu) harga (yang termurah) ATAU termasuk kategori Riba. Hadits shahih. Ini mempertegas kebolehan adanya Jual Beli dengan ada banyak alternatif harga, namun HARUS MILIH SALAH SATU HARGA, baru deh Jual Belinya SAH.

Misalnya ada alternatif harga (1) cash: 100 juta, (2) angsuran 5 tahun: 150 juta, (3) angsuran 10 tahun: 200 juta; (4) dan lain lain. Nah ketika Nasabah milih angsuran (HUTANG) selama 10 tahun, maka harganya 200 juta padahal harga cash-nya 100 juta. Ini boleh dilakukan.

Yang tidak logis kan penggunaan istilah KREDIT di Lembaga Keuangan atau Bank Murni Riba atau yang dilakukan para rentenir. PINJAM (Qardh, atau Kredit) sebesar 100 juta tapi minta dibalikin 150 juta. Ini gak logis. Gak ada transaksi Jual Beli.

Ingat wa ahallaLlaahul bay’a wa harramarribaa. Allah menghalalkan Jual Beli dan mengharamkan Riba. | Dalam pengambilan profit, di mana ada Jual Beli (yang sah), di situ tidak ada Riba. Di mana ada Riba, maka di situ tidak ada Jual Beli yang sah.

ARTIKEL:

Kesimpulan hukum ini berdasarkan beberapa dalil berikut:

Pertama, firman Allah,

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.‌ (QS. Al-Baqarah: 282)

Akad kredit termasuk salah satu bentuk jual beli utang. Dengan demikian, keumuman ayat ini menjadi dasar bolehnya akad kredit.‌

IFHAM:

Oke. Landasan ini logis. Namun perhatikan ya penggunaan istilah KREDIT yang BOLEH adalah ketika kredit dilakukan untuk transaksi Jual Beli. Bukan pinjam meminjam. Dalam kaidah fikih, kredit ini disebut dengan istilah Qardh, Kredit, Pinjaman yang bermakna juga: HUTANG. Pun jelas sah saja jika Kredit ini dimaknai sebagai Kredit TANPA BUNGA. Kredit tanpa bunga ini beda dengan Kredit dengan bunga 0%. Esensinya sudah beda. Kalau kredit di Lembaga Keuangan Syariah biasanya didefinisikan pada istilah tamwil (pembiayaan).

Mari selanjutnya kita gunakan saja istilah KREDIT untuk skema Kredit BERBUNGA. Dan kita gunakan istilah PEMBIAYAAN untuk kredit yang tidak berbunga. Dan pembiayaan ini bisa banyak jenisnya. Hati-hati dan pelan-pelan mencermati.

ARTIKEL:

Kedua, Hadits riwayat Aisyah radhiyalahu ‘anha.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran dihutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya. (Muttafaqun alaih)‌

Pada hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam membeli bahan makanan dengan pembayaran dihutang, dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian hadits ini menjadi dasar dibolehkannya jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan perkreditan adalah salah satu bentuk jual-beli dengan pembayaran dihutang.‌

IFHAM:

Oke ini definisinya adalah jual beli dengan pembayaran hutang ya. Klo di Lembaga Keuangan Syariah disebut Pembiayaan. Di lembaga Murni riba disebut Kredit Berbunga.

Ketiga, Hadits Abdullah bin Amer bin Al Ash radhiallahu anhu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita tidak memiliki tunggangan, Maka Nabi memerintahkan Abdullah bin Amer bin Al Ash untuk membeli tunggangan dengan pembayaran ditunda hingga datang saatnya penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amer bin Al Ashpun seperintah Rasulullah shallallahu â€کalaihi wa sallam membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat. (HR. Ahmad).‌

IFHAM:

Ini juga cocok.

ARTIKEL:

Hukum Kredit dengan Leasing‌

IFHAM:

Pelan-pelan ya. Akad berbasis dagang ini banyak jenisnya. Beda akad ya akan beda skema dan beda risiko.‌

ARTIKEL:

Istilah leasing berasal dari kata lease yang berarti sewa-menyewa. Dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, leasing diistilahkan sewa guna usaha‌.

Leasing dengan hak opsi (finance lease) banyak dilakukan dalam kredit motor, mobil, barang elektronik, furnitur, dan lain-lain yang diberikan oleh berbagai bank atau lembaga pembiayaan.‌

Praktik yang biasa terjadi sebagai berikut (misal leasing motor): seorang (misal fulan) datang ke lembaga pembiayaan dan ingin membeli motor secara kredit karena tak punya uang tunai. Lembaga pembiayaan membeli motor dari suplier/dealer motor, lalu dilakukan akad leasing antara lembaga pembiayaan dengan Fulan misalnya dalam jangka waktu tiga tahun. Dalam akad leasing itu terdapat fakta transaksi sebagai berikut:

Pertama, lessor (lembaga pembiayaan) sepakat setelah motor itu dia beli dari dealer/suplier, dia sewakan kepada lessee selama jangka waktu tiga tahun.‌

IFHAM:

Skema tersebut terjadi pada skema leasing murni riba, terjadi 2 jual beli dalam 1 jual beli. Nahaa Rasuulullaahi SAW ‘an bay’atayni fii bay’atin. Rasulullah mencegah/melarang terjadinya 2 jual beli dalam 1 jual beli. Hadits lain menyebut Nahaa Rasuulullaahi SAW ‘an shafqatayni fii shafqah, yang oleh jumhur ulama, ini dimaknai 2 jual beli dalam 1 jual beli. Ada 2 transaksi jual beli yang dilakukan dalam 1 jual beli, baik jual beli barang maupun jual beli jasa maupun jual beli manfaat dll. Dan kondisi ini juga tersyarat hanya dilakukan 2 pelaku yang sama, objek sama dan waktu yang juga sama. | Pelan-pelan memaknai dan menafsirkan hal ini.

Dalam skema leasing‌ syariah maka skemanya tidak demikian. Tidak ada sewa beli. Yang ada adalah Sewa Berakhir Lanjut Milik. Dalam bahasa Arab, sewa milik adalah Ijarah ma’al bay’, ini yang dilarang. Ini yang masuk kategori 2 jual beli dalam 1 jual beli. Sedangkan dalam skema leasing syariah menggunakan skema Ijarah Muntahiya bit Tamlik (IMBT), yakni sewa berakhir lanjut milik yang terdiri dari Ijarah Muntahiya bil hibah (sewa berakhir lanjut hibah) ATAU Ijarah Muntahiya bil bay’ (sewa berakhir lanjut jual beli). Susunan akadnya sudah tidak ada lagi 2 jual beli dalam 1 jual beli. Mungkin saja skemanya mirip, namun praktik operasional dan risikonya beda. Jika di lapangan ada yang melenceng ya benerin dan ingetin aja.

Skemanya adalah Leasing Syariah menyewakan motor kepada Nasabah dengan terlebih dulu Leasing Syariah JANJI (wa’ad) bahwa jika sewa selesai maka motor dihibahkan oleh Leasing Syariah kepada Nasabah, atau jika sewa selesai maka motor dijual oleh Leasing Syariah kepada Nasabah. | Sesederhana itu. Tidak ada akad Jual Beli (barang/jasa/manfaat) yang TERJADI BERSAMAAN. Tidak ada. Akad sewa harus selesai dulu. Baru terjadi hibah atau jual beli.

Ingat bahwa judul akadnya beda maka skema beda, risiko juga beda, hukumnya pun beda. | Perhatikan lagi bahwa tidak ada jual beli bersamaan dengan sewa pada Leasing Syariah.

ARTIKEL:

Kedua, lessor sepakat setelah seluruh angsuran lunas dibayar dalam jangka waktu tiga tahun, lessee (Fulan) langsung memiliki motor tersebut.‌

IFHAM:

Sampai di sini kelihatan skemanya sesuai Syariah. Asal ditaati runutannya. Sewa berakhir dulu, baru deh lanjut hibah atau jual beli. Gak pake jual beli SEJAK AWAL. | Perhatikan rincian beda-nya.

ARTIKEL:

Ketiga, menurut fakta leasing yang ada, selama angsuran belum lunas dalam jangka tiga tahun itu motor tetap milik lessor.‌

IFHAM:

Ini leasing murni riba. Ada angsuran jual beli yang belum lunas. Angsuran di Leasing Syariah adalah HANYA ANGSURAN SEWA. Kalaupun nih KALAUPUN terpaksa mau pake skema ada angsuran Jual Beli, ya bukan angsuran Jual Beli, namun angsuran untuk saving jika nanti akad jual beli sudah bisa dilakukan maka tinggal ambil dana savingnya. Ini kalaupun saja mau diterapkan skema saving ya. Tetapi akad jual belinya tidak aka nada dan tidak akan muncul sampai setelah sewa selesai. | Sekali lagi perhatikan rincian bedanya dan beda rinciannya.

ARTIKEL

Keempat, motor itu dijadikan jaminan secara fidusia untuk leasing tersebut. Karena itu BPKB motor itu tetap berada di tangan lessor hingga seluruh angsuran lunas. Konsekuensinya jika lessee (Fulan) tidak sanggup membayar angsuran sampai lunas, motor akan ditarik oleh lessor dan dijual.‌

IFHAM

Ketika akad sewa sudah dilakukan, perhatikan lagi kata kata saya, ketika akad sewa sudah dilakukan, maka barang MASIH menjadi MILIK PEMBERI SEWA, milik lembaga leasing syariah SAMPAI sewa selesai. Ketika sewa sudah lunas, baru deh SECARA SAH bisa terjadi pemindahan kepemilikan. Pindah jadi milik nasabah baik dengan cara HIBAH atau milih dengan cara jual beli.‌

ARTIKEL

Kelima, barang yang dijual belum selesai diserahterimakan. Maksudnya, ketika pihak lessor membeli motor dari dealer, barang itu belum diserahkan/berpindah tempat dari dealer ke lessor, tetapi langsung dijual kembali kepada lessee (fulan).

IFHAM

Dalam skema leasing, jual beli terjadi adalah SETELAH sewa lunas, setelah angsuran lunas. Ya diserahterimakan aja. Simpel.

ARTIKEL

Leasing ini (finance lease) hukumnya haram, berdasarkan dalil-dalil berikut:

Pertama, dalam leasing terdapat penggabungan dua akad, yaitu sewa menyewa dan jual beli, menjadi satu akad (akad leasing). Padahal hukum syara’ telah melarang penggabungan akad menjadi satu akad.‌

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (HR. Ahmad, Al Musnad, I/398).

IFHAM:

Setuju. Dalam skema Sewa Beli dalam definisi Sewa SEKALIGUS Beli, maka ini haram, karena ada 2 jual beli dalam 1 jual beli.

Dalam skema Syariah tidak ada 2 jual beli dalam 1 jual beli. Yang ada adalah sewa dulu sampai angsuran lunas, baru ada jual beli ATAU hibah.

ARTIKEL

Kedua, dalam akad leasing biasanya terdapat bunga. Maka harga sewa yang dibayar per bulan oleh lesse bisa jadi dengan jumlah tetap (tanpa bunga), namun bisa jadi harga sewanya berubah-ubah sesuai dengan suku bunga pinjaman. Atau apabila lesse telat membayar cicilan maka dikenakan denda yang pada hakikatnya bunga. Maka leasing dengan bunga seperti ini hukumnya haram, karena bunga termasuk riba:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah [2] : 275)

IFHAM

Setuju. Skema sewa beli di leasing NONSYARIAH ini ada skema demikian.

Dalam skema Leasing Syariah tidak ada skema ini. Dalam Leasing Syariah yang ada adalah skema SEWA “SELESAI“ PINDAH MILIK (hibah ATAU jual beli). | Cermati bedanya.

ARTIKEL

“Ketiga, dalam akad leasing terjadi akad jaminan yang tidak sah, yaitu menjaminkan barang yang sedang menjadi obyek jual beli. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan barang yang dibeli.: (Al Fatawa al Fiqhiyah al Kubra, 2/287). Imam Ibnu Hazm berkata, ‌ Tidak boleh menjual suatu barang dengan syarat menjadikan barang itu sebagai jaminan atas harganya. Kalau jual beli sudah terlanjur terjadi, harus dibatalkan.‌ (Al Muhalla, 3/437).

IFHAM

Tidak ada skema jual beli sampai SETELAH angsuran sewa lunas. Sehingga tidak perlu komentar lebih jauh lagi terkait hal ini.

ARTIKEL

Keempat, terlarangnya menjual barang yang belum selesai diserahterimakan. Larangan menjual barang yang belum selesai diserahterimakan ini berlaku bagi bahan makanan dan barang lainnya. Oleh sebab itu, barang yang sudah dibeli harus berpindah tempat terlebih dahulu sebelum dijual kembali kepada pihak lain.

Ibnu Umar juga mengatakan,

Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali‌ (HR. Muslim).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.‌

Ibnu Abbas mengatakan,

Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.â€‌ (HR. Bukhari dan Muslim).

IFHAM

Dalam skema Leasing Syariah TIDAK ADA SKEMA DEMIKIAN. Oleh karena itu, tidak perlu komentar lebih lanjut, meskipun hadits ini ada banyak tafsiran dan pemaknaan yang seringkali dimaknai beda ketika digunakan untuk mengkritik skema Jual Beli di Bank Syariah, terutama Murabahah. Ini nanti dibahas di bab Jual Beli aja, bukan bab SEWA.

SIMPULAN:

Ayo ke Leasing Syariah!

Jika ada skema leasing syariah yang skemanya MASIH tidak sesuai Syariah ya ingetin aja, benerin aja skemanya.

Mari tidak untuk mengutuk gelap. Mari nyalakan cahaya walau sekedar lilin. Dan walaupun sekedar menjadi pemantul Cahaya-NYA, walau menjadi pemantul Sang Maha Cahaya.

Ayo ke Leasing Syariah!

Jakarta, 7 November 2015 pk.14.06

Syariahkah Leasing Syariah? | Panjimas.com


Komentar pada website amanasharia.com,

komen amanasharia

 

Kesimpulan PROSYARI Team :

Leasing syariah yang tidak menginduk pada leasing konvensional belum eksis di Indonesia, maka dari itu kami dari PROSYARI akan berusaha mendorong batasan ikhtiar untuk terus mewujudkan Financial 100% Syariah dengan program Aplikasi Start-up Digital berbasis Cloud dan Mobile Apps untuk bertransaksi cicilan dengan dasar Akad (Jual Beli Hutang) Syariah.

Mohon doanya.

Terimakasih 🙂

BERCANDA MENURUT PANDANGAN ISLAM

Oleh: Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. [al-Ahzâb/33:21].

RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM JUGA BERCANDA
Sebagai manusia biasa, kadang kala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bercanda. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati, dan membuat mereka gembira. Namun canda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّه صلىاللّه عليه وسلم مُستَجْمِعًا قَطُّ ضَا حِكًا حَتَّى تُرَى مِنْهُ لَهَوَاتُهُ إِنَمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.[1]

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar. [2]

BEBERAPA CONTOH CANDA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

1. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu bentuk canda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan:

يَا ذَا الاُّ ذُ نَيْنِ

Wahai, pemilik dua telinga! [3]

2. Anas Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘anha memiliki seorang putera yang bernama Abu ‘Umair. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. Mereka berkata: “Wahai, Rasulullah! Burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati,” lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dengannya, beliau berkata:

يَا اَبَا عُميرٍ مَا فَعَلَ النُغَيْرُ

“Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” [4]

3. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bercerita, ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukainya. Hanya saja tampang pria ini jelek.

Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika ia sedang menjual barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memeluknya dari belakang, sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Zahir bin Haram pun berseru: “Lepaskan aku! Siapakah ini?”

Setelah menoleh iapun mengetahui, ternyata yang memeluknya ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?”

Dia menyahut,”Demi Allah, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian aku tidak akan laku dijual!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas: “Justru di sisi Allah l engkau sangat mahal harganya!” [5]

4. Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, bawalah aku?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kami akan membawamu di atas anak onta.” Laki-laki itu berkata: “Apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bukankah onta yang melahirkan anak onta?” [6]

5. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering kali bercanda dan menggoda Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Suatu kali beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Aku tahu kapan engkau suka kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku,” Aku
(‘Aisyah) menyahut: “Darimana engkau tahu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kalau engkau suka kepadaku engkau akan mengatakan, ‘Tidak, demi Rabb Muhammad,’ dan kalau engkau marah kepadaku engkau akan mengatakan, “Tidak, demi Rabb Ibrahim”. Aku (‘Aisyah) menjawab: “Benar, demi Allah! Tidaklah aku menghindari melainkan namamu saja.”[7]

6. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” [8]

CANDA YANG DIBOLEHKAN
Ada kalanya kita mengalami kelesuan dan ketegangan setelah menjalani kesibukan. Atau muncul rasa jenuh dengan berbagai rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan penyegaran dan bercanda. Kadang kala kita bercanda dengan keluarga atau dengan sahabat. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi dan dibolehkan. Begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukannya. Jika kita ingin melakukannya, maka harus memperhatikan beberapa hal yang penting dalam bercanda.

1. Meluruskan Tujuan.
Yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh gairah baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

2. Jangan Melewati Batas.
Sebagian orang sering kebablasan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma. Dia mempunyai maksud buruk dalam bercanda, sehingga bisa menjatuhkan wibawa dan martabatnya di hadapan manusia. Orang-orang akan memandangnya rendah, karena ia telah menjatuhkan martabatnya sendiri dan tidak menjaga wibawanya. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

3. Jangan Bercanda Dengan Orang Yang Tidak Suka Bercanda.
Terkadang ada orang yang bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

4. Jangan Bercanda Dalam Perkara-Perkara Yang Serius.
Ada beberapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita untuk bercanda. Misalnya dalam majelis penguasa, majelis ilmu, majelis hakim, ketika memberikan persaksian, dan lain sebagainya.

5. Hindari Perkara-Perkara Yang Dilarang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Saat Bercanda.
Tidak boleh bercanda atau bersenda gurau dalam perkara yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya sebagai berikut.

– Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Ada orang yang bercanda dengan memakai sesuatu untuk menakut-nakuti temannya. Misalnya, seperti memakai topeng yang menakutkan pada wajahnya, berteriak dalam kegelapan, atau menyembunyikan barang milik temannya, atau yang sejenisnya. Perbuatan seperti ini tidak dibolehkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْ خُذَنَّ أحَدُكُمْ مَتَا عَ أَخِيهِ لاَ عِبًا وَلاَ جَادًّا

Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.[9]

Pernah terjadi, ketika salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang tidur, datanglah seseorang lalu mengambil cambuknya, dan menyembunyikannya. Pemilik cambuk itupun merasa takut. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسلِمًا

Tidak halal bagi seorang muslim membuat takut muslim yang lain.[10]

Intinya, tidak boleh menakuti-nakuti seorang muslim meskipun hanya untuk bercanda, terlebih lagi jika dengan sungguh-sungguh.

– Berdusta saat bercanda.
Banyak orang yang dengan sesuka hatinya bercanda, tak segan berdusta dengan alasan bercanda. Padahal berdusta dalam bercanda ini tidak dibolehkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْت فِي رَبَضِ الْجَنّّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كََانَ مُحقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَط الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِ بَ وَإِنْ كَانَ مَازِ حًا وَبِبَيتِ فِي أَغلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yang memperbaiki akhlaknya.

Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tetap berkata jujur meskipun sedang bercanda. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لأَمْزَحُ وَلاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًا

Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar. [11]

Oleh karena itu, tidak boleh berdusta ketika bercanda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia. [12]

Apalagi bila dalam candanya itu ia menyebut aib dan rahasia orang lain, atau mencela dan mengejek orang lain.

– Melecehkan sekelompok orang tertentu.
Misalnya bercanda dengan melecehkan orang-orang tertentu, penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, atau bahasa tertentu, atau menyebut aib mereka dengan maksud untuk bercanda dan membuat orang lain tertawa. Perbuatan ini sangat dilarang.

– Canda yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain.
Kadang kala ini juga terjadi, terlebih bila canda itu sudah lepas kontrol. Sebagian orang bercanda dengan temannya lalu ia mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan keji. Seperti ia mengatakan kepada temannya, ‘hai anak hantu,’ dan kata-kata sejenisnya untuk membuat orang tertawa. Sangat disayangkan, hal seperti ini nyata terjadi di tengah orang-orang kebanyakan dan jahil. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan keterlaluan dalam bercanda, sehingga melampui batas.

6. Hindari Bercanda Dengan Aksi Dan Kata-Kata Yang Buruk.
Banyak orang yang tidak menyukai bercanda seperti ini. Dan seringkali berkembang menjadi pertengkaran dan perkelahian. Sering kita dengar kasus perkelahian yang terjadi berawal dari canda. Maka tidak sepatutnya bercanda dengan aksi kecuali dengan orang yang sudah terbiasa dan bisa menerima hal itu. Sebagaimana para sahabat saling melempar kulit semangka setelah memakannya. [13]

Adapun bercanda dengan kata-kata yang buruk tidak dibolehkan sama sekali. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. [al-Isrâ`/17:53].

7. Tidak Banyak Tertawa.
Banyak orang yang tertawa berlebihlebihan sampai terpingkal-pingkal ketika bercanda. Ini bertentangan dengan sunnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, beliau bersabda :

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.”

Seperti yang telah dijelaskan di atas dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Banyak tertawa dapat mengeraskan hati dan mematikannya.

8. Bercanda Dengan Orang-Orang Yang Membutuhkannya.
Seperti dengan kaum wanita dan anakanak. Itulah yang dilakukan oleh Nabi Shalalllahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana yang beliau lakukan terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dan al Hasan bin Ali, serta seorang anak kecil bernama Abu ‘Umair.

9. Jangan Melecehkan Syiar-Syiar Agama Dalam Bercanda.
Umpamanya celotehan dan guyonan para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama, ayat-ayat al-Qur‘an dan syiarsyiarnya, wal iyâdzu billâh! Sungguh perbuatan itu bisa menjatuhkan pelakunya dalam kemunafikan dan kekufuran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekanejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayatayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolokolok?”. [at-Taubah/9:64-65]

Dan mengangungkan syiar agama merupakan tanda ketakwaan hati. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [al-Hajj/22:32].

Demikianlah, semoga dengan tulisan ini kita bisa mengetahui kedudukan bercanda dalam pandangan Islam, mengetahui canda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan batasan-batasan yang dibolehkan dalam bercanda. Sehingga kita dapat membedakan antara bercanda yang dibolehkan dan yang tidak dibolehkan.

Maraji‘:
1. Tafsîr al-Qur‘ânil-’Azhîm, Imam Ibnu Katsîr.
2. Bahjatun-Nâzhirîn Syarh Riyâdhish-Shâlihîn, Syaikh Salîm bin ‘Id al-Hilâli.
3. Durruts-Tsamîn min Riyâdhish-Shâlihîn, ‘Abdul-’Azîz Sa’ad al-’Utaibi.
4. Mausû’ah al-Adabil-Islâmiyyah, ‘Abdul Azîz bin Fathis-Sayyid Nadâ, Dâruth-Thayyibah, Cetakan Kedua, Tahun 1425 H – 2004 M.
5. Shahîh al-Jami’ish-Shaghir, Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, al-Maktab al-Islami, Cetakan Ketiga, Tahun 1410 H – 1990.
6. Silsilatul Ahâdits Shahîhah, Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, disusun oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur Hasan Salman, Maktabatul-Ma’ârif, Riyadh, Cetakan Pertama.
7. Sirah Shahîhah, Dhiyâ al-‘Umari. 8. Sunan Abu Dawud, Tashih: Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, dan disusun oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur Hasan Salman, Maktabatul-Ma’ârif, Riyadh, Cetakan Pertama.
9. Yaumun fî Baiti Rasulillah, ‘Abdul-Malik bin Muhammad al-Qâsim, Darul-Qasim, Cetakan Pertama, Tahun 1419 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim.
[2]. Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahîh.
[3]. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/117, 127, 242, 260), Abu Dawud (5002), at-Tirmidzi (1992). Lihat Shahîh al- Jâmi’ (7909).
[4]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
[5]. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/161), at-Tirmidzi dalam asy-Syamil (229), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (3604).
[6]. Abu Dawud (4998), dan at-Tirmidzi (1991) dari Anas. Shahîh Abu Dawud (4180).
[7]. Muttafaqun ‘Alaihi, Shahîh al-Bukhâri, sebagaimana terdapat dalam Fathul-Bari (9/325), Shahîh Muslim (3/1890, hadits nomor 2439).
[8]. Lihat Silsilah Ahâdîts Shahîhah, nomor hadits 70.
[9]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5003), dan at-Tirmidzi (2161). Lihat Shahîh Abu Dawud (4183).
[10]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5004). Lihat Shahîh Abu Dawud (4184).
[11]. Diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Kabir (XII/13443). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (2494).
[12]. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/5), Abu Dawud (4990), at-Tirmidzi (2315). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (7126).
[13] Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dalam al-Adabul-Mufrad, hlm. 41. Lihat as-Silsilah ash-Shahîhah (436).

Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran. Continue reading ..

UPDATE PEMBANGUNAN CORDOVA

 

FYI :
UPDATE Cluster CORDOVA GREEN LIVING, Cikarang-Bekasi on Progress Agustus 2016
*Pemasangan Bawplank (Patok Kavling)
*Pondasi Main Gate


Assalamualaikum Wr.Wb

Kami nantikan kehadiran Bapak/Ibu pada OPEN HOUSE Perumahan 100% Syariah
“CORDOVA GREEN LIVING” Cikarang.
Hari : Jum’at – Minggu
Tanggal : 26 – 28 Agustus 2016
Waktu : Pkl. 13.00 – 17.00 wib
Tempat : Kantor Pemasaran CORDOVA GREEN LIVING
Jln. Raya Cikarang-Cibarusah No.88 Ds. Sukadami, Kec. Cikarang Selatan (Ruko Hijau, patokan 50 meter dari SPBU Kandangroda & Kantor Kecamatan Cikarang Selatan)

Dapatkan Hunian dgn Konsep Ultimate (Full Facility & Full Serviced Home) dengan sistem transaksi yg sangat Mudah (100% murni Syariah) serta dapatkan Peluang Investasi Property yang sangat menguntungkan utk Jangka Panjang Anda.

# Dapatkan Promo diskon s.d 100 Juta Rupiah & Bonus Buyer Get Buyer
Unit sangat terbatasss !!


 

 

Berikut ini adalah pricelist yang berlaku, silahkan klik disini atau klik gambar dibawah untuk memperbesar gambar.

PRICELIST CORDOVA UPDATE SEPTEMBER 2016

Kini Telah Hadir Villa Minimalis Berkonsep Syari’ah, Suasana Pegunungan dan Daerah Wisata

“MONTANA BOUTIQUE RESORT”

 

9 Kebahagiaan Bagi KELUARGA

  1. Suasana Pegunungan yang Nyaman dan Asri, Terletak di Kaki Gunung Salak
  2. Bersebelahan dengan tempat Wisata International Kampung Budaya Sunda
  3. Air Gunung yg sejuk menyegarkan
  4. 10 “ The Junggle & Jungle Fest
  5. 10” ke Air Terjun Curug Nangka
  6. 10” ke Hotel Mongolia “High Land Park Resort Bogor”
  7. 10” ke Cunang Hill
  8. 10” ke Pura Terbesar Se-Asia
  9. 15” ke Kebun Raya Bogor

Continue reading ..